MENINGKATKAN BUDAYA MEMBACA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT KAMPUS

http://sahatparsaulian.wordpress.com/

Membaca

Apa yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata itu? Sebagian ada yang berfikir membaca adalah kegiatan yang membosankan. Ada juga yang mengatakan bahwa membaca hanya menyita waktu, tenaga dan pikiran. Bahkan ada yang berasumsi bahwa membaca bukanlah kegiatan yang bermanfaat karena tidak menghasilkan materi. Padahal, kalau kita mau berpikir kritis, kita akan menemukan begitu banyak manfaat dari kegiatan membaca.
Dengan membaca suatu bacaan, seseorang dapat menerima informasi, memperdalam pengetahuan, dan meningkatkan kecerdasan. Pemahaman terhadap kehidupan pun akan semakin tajam karena membaca dapat membuka cakrawala untuk berpikir kritis dan sistematis. Hanya dengan melihat dan memahami isi yang tertulis di dalam buku pengetahuan maupun pelajaran, membaca bisa menjadi kegiatan sederhana yang membutuhkan modal sedikit, tapi menuai begitu banyak keuntungan.

Kebiasaan membaca adalah ketrampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan ketrampilan bawaan. Oleh karena itu kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Bagi negara – negara berkembang aktivitas membaca pada umumnya adalah untuk memperoleh manfaat langsung. Untuk tujuan akademik membaca adalah untuk memenuhi tuntutan kurikulum sekolah atau Perguruan Tinggi.
Buku sebagai media transformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas-batas geografis suatu negara, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikomunikasikan dan digunakan dengan cepat di berbagai belahan dunia. Semakin banyak membaca buku, semakin bertambah wawasan kita terhadap permasalahan di dunia. Karena itulah buku disebut sebagai jendela dunia.

Manfaat Perpustakaan

Salah satu unsur penunjang yang paling penting dalam dunia pendidikan tinggi adalah keberadaan sebuah perpustakaan. Adanya sebuah perpustakaan sebagai penyedia fasilitas yang dibutuhkan terutama untuk memenuhi kebutuhan civitas akademik ( Dosen, Staf dan Mahasiswa ) akan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kampus itu sendiri. Didalam penulisan artikel ini, penulis ingin mengkhususkan pembahasan kepada salah satu bagian dari masyarakat kampus yaitu mahasiswa.

Seperti kita ketahui bersama, salah satu tujuan utama penyelenggaraan kegiatan belajar di Perguruan Tinggi adalah untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, bukan sekedar memenuhi jumlah minimal SKS yang dibebankan lantas mendapatkan ijazah dan gelar akademik atau profesi. Seseorang akan dikatakan berkualitas apabila ia mempunyai wawasan luas dan mendalam serta tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya pada bidang yang digelutinya.
Seorang mahasiswa yang ingin mencapai sukses dalam studinya harus mempunyai strategi khusus dalam memanfaatkan waktu untuk belajar semaksimal mungkin dan senantiasa memprediksi lima atau enam tahun kedepan, pada saat mana ia meninggalkan Perguruan Tinggi dan mengaplikasikan ilmunya dilapangan. Perlu diingat bahwa, belajar mandiri (self education) adalah ciri khas belajar di Perguruan Tinggi, ini berarti bahwa inisiatif untuk belajar aktif dituntut lebih banyak pada mahasiswa, salah satunya dengan memanfaatkan waktu yang tersisa di perpustakaan.

Manfaat perpustakaan sangat penting untuk mengasah kemampuan analisis dan pendalam materi perkuliahan. Perpustakaan memiliki bahan pustaka yang beraneka ragam jenisnya. Buku-buku sebanyak mungkin harus dibaca, baik buku yang dianjurkan dosen maupun buku lain yang tidak dianjurkan. Disarankan agar mahasiswa tidak membatasi diri hanya membaca buku yang dianjurkan dosen tetapi bacalah buku mengenai fenomena yang sama sebanyak mungkin, karena pandangan dari banyak pakar dengan membaca berarti memperluas wawasan kita mengenai objek studi yang kita pelajari.

Kurangi Tradisi Lisan, Tingkatkan Tradisi membaca

Di era globalisasi dengan kemajuan teknologi, kebanyakan orang cenderung mendengar dan berbicara ketimbang melihat diikuti membaca. Di lembaga – lembaga pendidikan pun tradisi lisan mendominasi proses belajar mengajar sehingga minat baca dan ingin memiliki buku-buku ilmu pengetahuan bukanlah prioritas utama atau sama sekali tidak difungsikan secara efisien. Kenyataan menunjukkan adanya dua alternativ pilihan yakni ketika orang dihadapkan dengan buku-buku ilmu pengetahuan dan tayangan film menarik, orang akan cenderung melelahkan indra penglihatan (mata) untuk menonton film berjam – jam daripada membaca buku-buku ilmu pengetahuan.

Membaca buku-buku ilmu pengetahuan disertai dengan menulis sangat berarti karena mengurangi beban memori ingatan kita. Ilmu pengetahuan hanya dapat diciptakan oleh mereka yang sama sekali terserap dengan aspirasi menuju kebenaran dan pemahaman. Dalam masyarakat pembaca, selalu terkandung pemikiran bahwa dikala orang telah membaca dan menguasai isi ilmu pengetahuan, orang sering sudah menganggap telah menjadi ilmuwan atau peneliti yang hebat. Salah satu etika moral seorang ilmuwan adalah memiliki kesadaran bahwa dia baru mengetahui sebagian dari ilmu itu. Menjadi ilmuwan bukanlah menjadi orang serba tahu, tetapi menjadi orang yang dituntut untuk belajar secara terus – menerus dengan jalan banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan. Svami Vivekanda seorang tokoh ilmuwan terkenal mengatakan ilmu pengetahuan dan agama akan bertemu dan berjabat tangan, puisi dan filsafat akan menjadi kawan. Apabila kita dapat mewujudkanya, kita dapat yakin bahwa ia akan terjadi selama – lamanya dan bagi semua orang.

Kurangilah tradisi lisan, mendengar dengan membaca dan menulis, tukarkan pembelian barang-barang yang tak memberi input bermakna dengan membeli buku-buku ilmu pengetahuan, luangkanlah waktu sejenak dengan membaca di perpustakaan karena masa depan kita ditentukan masa hari ini dan masa hari ini ditentukan masa yang lampau. Kesemuanya diharapkan dapat mengaktualisasikan makna saraswati dengan arif dan bijaksana sehingga dapat mendatangkan dampak positif ke arah kemajuan. Oleh karena itu, jadikanlah budaya membaca bagian dari kehidupan kita yang tak akan terpisahkan.*

Written BY : Muktamarudin Fahmi, A.Md Perpustakaan FPPB

*Disadur dari berbagai sumber.
Dikirim oleh Muktamarudin Fahmi, A.Md
Tanggal 2008-08-11
Jam 08:44:21

By Cowo Saraf Stadium 4 Posted in Membaca

Melatih Pergerakan Mata Dalam Membaca Cepat

http://sahatparsaulian.wordpress.com/

Setelah Anda sering berlatih mengenali kata dan mengenali frasa dalam membaca, tentunya Anda sudah tidak lagi membaca kata demi kata satu persatu. Nah, sekarang kita akan bergerak lebih jauh lagi untuk mengembangkan kebiasaan membaca cepat ini. Sekarang, kita akan masuk ke latihan pergerakan mata. Disini kita akan melatih irama pergerakan mata kita dalam membaca.

Untuk melatih mata kita agar terbiasa memiliki jangkauan fiksasi yang terdiri dari beberapa kata sekaligus, caranya adalah sebagai berikut. Oh ya, jika Anda masih belum mengerti tentang fiksasi mata dalam membaca, silahkan membaca artikel sebelumnya.

Kita sudah sangat terbiasa menggerakan mata kita mengikuti baris bacaan dari kiri ke kanan pada setiap halaman, untuk ‘mengambil’ satu kata demi satu kata. Nah, untuk memaksa mata kita mengambil sekaligus beberapa kata dalam sekali fiksasi, kita buat garis vertikal pada setiap halaman bacaan seperti berikut ini.

Pada setiap halaman, kita buat garis yang membagi bacaan menjadi empat kolom. Nah, selanjutnya, mulailah membaca. Namun, paksakan mata Anda untuk tidak lagi berhenti di setiap kata.

Ketika mulai membaca baris pertama, fokuskan mata ke tengah kolom pertama di baris pertama, lalu tangkaplah semua kata yang ada di dalamnya (‘Sebelum berangkat’) dalam sekali pAndang. Lalu langsung fokus ke tengah kolom kedua, dan tangkaplah sekaligus dua kata ‘memang kita’. Berikutnya ke kolom ketiga, tangkaplah sekaligus ‘menyadari ada’. Keempat, langsung tangkap tiga kata ‘penonton, ada arena’.

Demikian juga untuk baris-baris berikutnya. Dengan cara ini, Anda akan memaksa mata Anda berlatih untuk hanya melakukan fiksasi (berhenti untuk menangkap kata) empat kali saja dalam satu baris.

Semakin Anda mahir, Anda bisa mengurangi jumlah kolom perhalaman bacaan menjadi hanya tiga atau dua kolom saja. Dengan demikian, artinya jangkauan fiksasi mata Anda menjadi lebih luas lagi.

Kelak, jika Anda sudah sangat terbiasa membaca dengan cara ini, garis-garis yang membagi setiap halaman menjadi kolom-kolom itu cukup garis imajiner saja. Anda tidak lagi perlu garis yang nyata di setiap halaman.

Saya beri satu contoh bacaan empat kolom di sini, meski selanjutnya Anda bisa membuatnya sendiri. Jika sudah terbiasa, cobalah untuk membuat latihan bacaan tiga kolom atau dua kolom untuk memperluas jangkauan fiksasi mata Anda.

Bacaan di bawah terdiri dari 196 kata. Ambillah stopwatch sebelum mulai membaca, dan hitung kecepatan baca Anda.

Oh ya, untuk contoh latihan-latihan yang lebih baik lagi, bisa Anda dapatkan di eBook Speed Reading for Beginners yang bisa Anda unduh, gratis. Atau yang lebih khusus lagi, juga ada di member area membacacepat.com

Selamat berlatih.

By Cowo Saraf Stadium 4 Posted in Membaca

Bagaimana Memulai Kebiasaan Membaca Dengan (Sangat) Cepat?

http://sahatparsaulian.wordpress.com/

Benar. Kecepatan baca rata-rata anak sekolah dasar, tepatnya mereka yang belum lama dan berlum berpengalaman membaca, adalah dua ratus kata permenit, atau 200 kpm. Itu kira-kira sama dengan satu setengah sampai dua paragraf bacaan per menitnya.

Anda tentu sudah sangat berpengalaman membaca. Berapa usia Anda sekarang? Dua puluhan? Tiga puluhan? Empat puluhan, mungkin? Jelas, Anda sudah sangat lama dan sangat berpengalaman membaca. Tentu kecepatan Anda jauh di atas itu.

Jadi, berapa kira-kira kecepatan baca Anda sekarang? Tiga ratus kata per menit? Empat ratus? Atau lima ratus, mungkin?

Sayangnya, kemungkinan besar tidak demikian. Menurut data statistik, kecepatan baca rata-rata orang dewasa adalah 250 – 300 kata permenit.

250 – 300 kata permenit. Itu kira-kira sama dengan dua sampai tiga paragraf saja. Itu pun dengan tingkat pemahaman hanya sebesar 70%.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa sebagian besar manusia di dunia ini, sejak usia sekolah dasar hingga masa dewasa, tidak pernah mengalami peningkatan kecepatan membaca yang cukup berarti. Atau tepatnya, kecepatan membaca mereka tidak pernah meningkat secara signifikan.

Dua ratus lima puluh kata kira-kira sama dengan seperempat halaman buku. Dengan kecepatan baca seperti itu, artinya kita membutuhkan empat menit untuk membaca satu halaman. Dan dua puluh jam untuk menamatkan satu buku setebal tiga ratus halaman.

Jika Anda cuma punya waktu satu jam setiap hari untuk duduk diam dan membaca, artinya Anda membutuhkan dua puluh hari, untuk menamatkan buku tersebut. Dua puluh hari, untuk memetik isi hanya satu buku saja! Itu nyaris tidak ada bedanya dengan anak sekolah dasar.

Serius. Ukurlah kecepatan baca Anda, bukan sekedar mengira-ngira. Inilah awalnya. Ini seperti Anda membandingkan foto wajah Anda sebelum dan sesudah mandi. Bagaimana Anda bisa tahu sudah sejauh apa pencapaian Anda, jika Anda tidak tahu dari titik mana Anda berangkat?

Lakukan. Gunakan jam tangan. Atau alarm ponsel, tidak masalah. Stopwatch lebih baik, kalau ada. Baca sebuah bahan bacaan selama tepat satu menit, — dan pahami, jangan asal cepat –, tandai, dan hitung berapa kata yang sudah Anda baca.

Cara mengukur yang lebih jelas, dengan bahan bacaannya, juga ada di Bab 4 buku Speed Reading for Beginners. Bisa didownload secara gratis di sini.